Peran Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) sebagai Biofilter dan Fitoremediasi terhadap Logam Cu, Cd, Pb, dan Zn dalam Rangka Restorasi Situ

Astri Ratnasari1, Wisnu Wardhana2

Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Depok Jawa Barat16424

Dilihat 43 kali

Abstrak

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tumbuhan air tawar yang berpotensi dijadikan biofilter padatan tersuspensi dalam air. Eceng gondok termasuk tanaman hiperakumulator karena kemampuannya dalam mengakumulasi logam terlarut dalam perairan. Kemampuan tersebut memungkinkan eceng gondok dijadikan sebagai tanaman fitoremediasi. Penelitian terdiri dari tiga kelompok, yaitu eceng gondok sebagai biofilter padatan tersuspensi, penentuan titik jenuh pengikatan padatan tersuspensi oleh akar eceng gondok dan fitoremediasi logam Cu, Cd, Pb, dan Zn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eceng gondok dapat digunakan sebagai biofilter padatan tersuspensi dan agen fitoremediasi Cu, Cd, Pb dan Zn dalam waktu lebih dari 7 hari.

Kata kunci :
eceng gondok fitoremediasi biofilter susupensi

Pendahuluan

 

Eichhornia crassipes merupakan spesies tumbuhan air tawar yang berasal dari Brazil. Di Indonesia, E. crassipes lebih dikenal dengan sebutan Eceng Gondok. Eceng gondok merupakan tanaman yang pertama kali ditemukan di Sungai Amazon Brazil pada tahun 1824 oleh Carl Fredrich Philipp von Martius, yaitu seorang ahli botani berkebangsaan Jerman ( Dewi 2012: 152). Eceng gondok memiliki bunga yang cantik sehingga seorang ahli botani Amerika membawa eceng gondok ke Kebun Raya Bogor pada tahun 1894 untuk dijadikan tanaman hias. Namun, ternyata keberadaan eceng gondok di Kebun Raya Bogor pertumbuhannya sangat cepat sehingga mampu menutupi seluruh permukaan kolam. Maka dari itu, akhirnya eceng gondok tersebut dibuang melalui sungai di sekitar Kebun Raya Bogor sehingga menyebar ke sungai-sungai, rawa-rawa, dan danau-danau di seluruh Indonesia (Backer, 1951 dalam Hastuti 1986: 9).

Penyebaran dan pertumbuhan populasi eceng gondok dalam suatu perairan sangat cepat, sehingga dapat menutupi permukaan perairan dalam waktu singkat di suatu perairan tertutup (situ, danau, dan kolam). Akibatnya laju pendangkalan perairan menjadi lebih cepat dan kelancaran aliran air terhambat. Kecepatan pertumbuhan eceng gondok didukung oleh kemampuannya dalam merespon kadar unsur hara yang tinggi dalam perairan dalam waktu singkat (Tham 2012: 23).

Eceng gondok memiliki akar serabut dan sangat rapat. Perakaran seperti ini sangat baik dalam mengikat padatan tersuspensi di dalam air. Kondisi perakaran demikian dan letak sebaran populasi yang umumnya di outlet (keluaran air), maka eceng gondok dapat digunakan sebagai biofilter padatan tersuspensi karena perakarannya yang rapat sehingga mampu menjernihkan sekaligus memperlambat laju pendangkalan akibat sedimen di perairan situ (Tham 2012: 23).

Eceng gondok juga termasuk ke dalam tanaman hiperakumulator karena kemampuannya dalam mengakumulasi logam terlarut di perairan. Kemampuan tersebut memungkinkan eceng gondok dijadikan sebagai tanaman fitoremediasi dalam perairan yang tercemar logam berat (Sittadewi 2007: 229).

Fitoremediasi lebih unggul jika dibandingkan dengan metode engineering–base (removal/replacement) karena biaya yang dikeluarkan dalam mengelola perairan yang tercemar lebih murah . Metode removal/replacement membutuhkan biaya antara $10--$3000/m3, sedangkan dengan fitoremediasi hanya $0.02--$1 per m3 (Rahmansyah dkk. 2009: 1).

Pra penelitian yang dilakukan di Situ Agathis UI Depok menunjukkan bahwa perakaran eceng gondok mampu mengikat 0,8 gram padatan tersuspensi per individu. Hasil pra penelitian juga menunjukkan bahwa lima belas individu eceng gondok yang diambil secara acak mampu mengurangi kandungan padatan tersuspensi dalam air sehingga 39,96% dari total berat padatan tersuspensi pada inlet. Akibatnya kandungan padatan tersuspensi dalam pada outlet lebih sedikit jika dibandingkan dengan inlet. Apabila kemampuan tersebut diterapkan dalam situ, diharapkan akan terjadi penurunan di outlet dibandingkan dengan inlet (Ratnasari dkk., 2015: 34).

Penelitian mengenai kemampuan eceng gondok dalam menyerap logam berat pada sistem perairan terbuka secara langsung belum banyak dilakukan. Penelitian yang membahas mengenai eceng gondok umumnya fokus pada penyebaran dan cara tepat untuk membasmi populasi eceng gondok dalam suatu peraian, baik itu secara fisik, kimiawi ataupun biologis (Julien, 2008). Penelitian yang berfokus pada logam berat sudah beberapa dilakukan, namun beberapa diantaranya merupakan penggunaan eceng gondok sebagai agen fitoremediasi pada limbah yang mengandung logam berat.  Beberapa penelitian yang menggunakan eceng gondok sebagai fitoremediasi diantaranya adalah penggunaan eceng gondok untuk mengurangi kandungan logam kromium pada limbah penyamakan kulit (Hartanti dkk., 2014) dan penggunaan eceng gondok sebagai fitoremediator Radiosesium di perairan tawar (Aisyah dkk. 2011).


Publikasi Lainnya

Tidak Ada Publikasi Lainnya